<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Cahya Anakku</title>
	<atom:link href="http://sekolah.cahyaanakku.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekolah.cahyaanakku.org</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 08:15:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Al-Quran Menenangkan Penderita Autis</title>
		<link>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=437</link>
		<comments>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=437#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 06:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sca</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kecil Hafiz mengalami autis.  Dalam kesehariannya ia berteriak.  Ajaibnya, ia lantas berhenti ketika dikumandangkan suara Syeikh Sudays 
Hidayatullah.com&#8211;Namanya Hafiz. Ia lahir dari keluarga biasa di Kerala, India. Hafiz, sejak kecil mengalami autis sehingga dalam kesehariannya hanya berteriak. Suatu saat, sang ibu, Fasila mencoba mengimbangi teriakan Hafiz dengan kaset bacaan ayat suci Al-Quran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size: 14pt; font-family: 'Georgia','serif';">Sejak kecil Hafiz mengalami autis. <span> </span>Dalam kesehariannya ia berteriak. <span> </span>Ajaibnya, ia lantas berhenti ketika dikumandangkan suara Syeikh Sudays </span></em></p>
<p><strong><em><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Hidayatullah.com&#8211;</span></em></strong><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Namanya Hafiz. Ia lahir dari keluarga biasa di Kerala, India. </span><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/images/q_thumb.jpg" border="0" alt="AlQur'an" width="263" height="181" align="right" /><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Hafiz, sejak kecil mengalami autis sehingga dalam kesehariannya hanya berteriak. Suatu saat, sang ibu, Fasila mencoba mengimbangi teriakan Hafiz dengan kaset bacaan ayat suci Al-Quran yang dikumandangkan Syeikh as-Sudays, imam Masjidil Haram Mekah yang terkenal. Tak dinyana, Hafiz tenang dan tak teriak lagi.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Yang mengagumkan, ketika sang ibu mematikan kaset iyu, Hafiz meneruskan bacaan Al-Quran. Sang ibu kaget melihat kemampuan Hafiz. Maka, orang-orang di sekitar diundang untuk mencek hafalan Hafiz, ternyata benar. Bacaan yang dialkukan Syeikh as-Sudais dibaca secara benar dengan suara yang dimiripkan dengan suara Sudais. Fasila teriak bahagia kala itu. Sehingga dengan sangat mengagumkan, Hafiz bisa menghafal Al-Quran yang berisi 114 surah ini dengan baik dan benar.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Dalam usia lima tahun Hafiz sudah hafal Al-Quran. Ia kini menjadi tenang dengan diputarkan ayat-ayat suci itu. Padahal, Hafiz bicara saja belum pernah becus. Suatu saat, Fasila mengajak Hafiz serta ayahnya Ashim Muhammad yang bekerja di Uni Emirat Arab untuk umrah. Ada tujuan lain disamping umrah, Ashim ingin mempertemukan Hafid dengan idolanya, Syeikh Sudais.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Tapi, Ashim keburu membawanya ke masjid Ar-Ruwaiys di Mekah yang khusus menangani anak-anak cacat. Mereka semua dibuat kagum dengan kemampuan hafalan Hafiz yang luar biasa. </span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Ayat Al-Quran telah membuat ketenangan buat dirinya dan hafalan Al-Quran itu telah menghiburnya serta kedua orangtuanya.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: 'Georgia','serif';">Demikian seperti diberitakan harian Al-Ittihad (Uni Emirat Arab) yang kemudian dikutip harian Khaleej Times edisi 16 Mei 2008. [ihj/<a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolah.cahyaanakku.org/?feed=rss2&amp;p=437</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Autis Bereaksi Terhadap Kasus Cho</title>
		<link>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=349</link>
		<comments>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=349#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 04:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sca</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Rita Uli Hutapea - detikNews
Pittsburgh - Kabar bahwa Cho Seung-Hui, pelaku pembantaian di Universitas Virginia Tech, didiagnosa menderita autis sewaktu kecil mengundang reaksi dari komunitas autis di Amerika Serikat. Badan Autisme AS merasa perlu mengeluarkan pernyataan sikap soal itu.
Reaksi itu datang dari badan AutismLink and Autism Center of Pittsburgh seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rita Uli Hutapea - detikNews</p>
<p>Pittsburgh - Kabar bahwa Cho Seung-Hui, pelaku pembantaian di Universitas Virginia Tech, didiagnosa menderita autis sewaktu kecil mengundang reaksi dari komunitas autis di Amerika Serikat. Badan Autisme AS merasa perlu mengeluarkan pernyataan sikap soal itu.</p>
<p>Reaksi itu datang dari badan AutismLink and Autism Center of Pittsburgh seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/4/2007).</p>
<p>&#8220;Meski seluruh komunitas autis di Pittsburgh dan seluruh negara hancur dengan peristiwa terakhir di Virginia Tech, kami ingin mengingatkan publik untuk tidak menstigmata anak-anak atau individu yang menderita autis,&#8221; demikian statemen yang disampaikan direktur pusat autis Pittsburgh tersebut, Cindy Waeltermann.</p>
<p>&#8220;Cho kemungkinan tidak menerima bantuan dan dukungan yang diperlukannya sejak dini. Karena itulah kenapa intervensi begitu penting dan kenapa tempat seperti Pusat Autisme Pittsburgh ada. Tindakan seorang individu tidak menggambarkan keseluruhan populasi autis,&#8221; kata Waeltermann.</p>
<p>Waeltermann menegaskan, tidak adil menyalahkan tindakan brutal Cho pada kondisi autis yang dideritanya. Sebabnya, Cho jelas-jelas lemah secara psikologis. Apalagi pria Korsel itu juga pernah punya masalah kejiwaan.</p>
<p>Menurutnya, kasus Cho merupakan peringatan akan pentingnya intervensi dan penanganan sejak dini terhadap para penderita autis. Apalagi berdasarkan hasil riset, anak-anak autis yang mendapat pertolongan sejak dini akan lebih mahir berkomunikasi. (ita/sss)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolah.cahyaanakku.org/?feed=rss2&amp;p=349</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merancang Liburan Untuk Anak Autistik</title>
		<link>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=329</link>
		<comments>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=329#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 20:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[PRIORITAS persiapan:

Tujuan. Mau kemana? Apakah tempat umum atau tempat keluarga. Menginap atau tidak.
Perjalanan. Naik apa? - naik kendaraan pribadi / transportasi umum? Lama perjalanan?
Makan/minum. Diet? Bawa sendiri? Beli jadi? Masak ?
Perlengkapan yang diperlukan. Menginap atau tidak? Berapa lama menginap? Kegiatan selama menginap? Bermain di tempat seperti apa?

Guna mendapatkan peran serta anak autistik secara penuh, sedapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PRIORITAS persiapan:</p>
<ol>
<li>Tujuan. Mau kemana? Apakah tempat umum atau tempat keluarga. Menginap atau tidak.</li>
<li>Perjalanan. Naik apa? - naik kendaraan pribadi / transportasi umum? Lama perjalanan?</li>
<li>Makan/minum. Diet? Bawa sendiri? Beli jadi? Masak ?</li>
<li>Perlengkapan yang diperlukan. Menginap atau tidak? Berapa lama menginap? Kegiatan selama menginap? Bermain di tempat seperti apa?</li>
</ol>
<p>Guna mendapatkan peran serta anak autistik secara penuh, sedapat mungkin minta mereka menetapkan pilihan tujuan perjalanan liburan. Akan ke laut, ke hotel, ke kota lain naik kendaraan umum (kereta api, bis, pesawat, kapal laut), ke rumah nenek, menginap di gunung? Bila mereka sudah menetapkan pilihan, berbagai hal dengan mudah bisa dirancang.<br />
Yang paling penting, kita sebagai orangtua, melepaskan semua identitas dan keinginan karena kita sebaiknya fokus pada kebutuhan autistik. Dengan demikian kita tidak mengalami stress yang berlebihan.</p>
<p>Tips:</p>
<ol>
<li>Berhari-hari sebelum berangkat, buat sebuah cerita yang bisa diulang-ulang dibacakan (dengan beberapa gambar) untuk menjelaskan apa yang akan dijalani pada hari tertentu. Misal, judul cerita adalah &#8220;pergi ke dunia fantasi&#8221;. Cerita tersebut, selain berisikan hal-hal yang dapat dilakukan disana, juga mencantumkan hal yang &#8216;tidak boleh&#8217; dilakukan.</li>
<li>Ikuti jam makannya dan kebiasaannya, daripada mengikuti kebiasaan Anda. Anak yang gelisah karena lapar menjadi tidak koperatif sehingga sulit diatur. Sementara itu, kita dengan mudah menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang agak berubah.</li>
<li>Bila berniat untuk menginap, pastikan kita membawa berbagai keperluannya untuk bisa tidur dengan nyaman. Bila ia terbiasa &#8216;menggesekkan&#8217; telapak kaki ke dinding (misal), upayakan agar ia bisa juga melakukannya di hotel (dengan modifikasi posisi tidur). Jangan lupa &#8216;perlengkapan&#8217; yang biasa ia pakai untuk tidur dengan nyaman&#8230;.</li>
<li>Bawa berbagai hal yang dapat mengalihkan perhatiannya dari keadaan &#8216;baru&#8217; yang kurang nyaman baginya. Misalnya ia suka gameboy, bawa extra permainan. Atau bawa portable vcd player dan kaset vcd untuk ia tonton selama perjalanan yang membosankan. Bisa juga membawa berbagai buku, alat main, pensil gambar, buku kegiatan dsb.</li>
<li>Pastikan pakaian yang dibawa tidak kurang, dengan membawa lebih sekitar 2-3 pasang dari rencana acara yang akan dijalani. Hal ini lebih-lebih lagi bila acara libur di daerah &#8216;basah&#8217; (dingin&#8217; gunung, laut &#8216; air) atau pada saat cuaca sedang tidak ramah.</li>
<li>Bila memang akan melakukan hal yang &#8216;berbeda&#8217; dan &#8216;baru&#8217; daripada biasanya, upayakan melakukan simulasi sebelum sungguh-sungguh berangkat. Misal, belum pernah antri untuk waktu panjang&#8230;sebelum ke DUFAN, rekayasakan situasi dimana mereka perlu antri ! Bila belum terlatih untuk buang air di toilet umum (duduk maupun jongkok), lakukan hal ini berulang kali sebelum perjalanan sesungguhnya dilaksanakan.</li>
</ol>
<p>Terakhir&#8230;ingat bahwa ini adalah LIBURAN untuk anak-anak. Jadi kalau mereka sudah merasa &#8216;tidak nyaman&#8217;, upayakan untuk segera melakukan perubahan seperlunya. Jadi jika liburan (entah karena apa) sudah terasa kurang nyaman bagi mereka, segeralah pulang meski itu lebih cepat daripada rencana semula. Yang penting Anda sudah mencapai satu tujuan: membuat acara liburan menyenangkan bagi anak. Menyenangkan bagi mereka ! (meski tidak selalu bagi Anda).</p>
<p>Sumber: www.autisme.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolah.cahyaanakku.org/?feed=rss2&amp;p=329</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dalang Autis Hibur Pengunjung Wijaya Festival</title>
		<link>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=1</link>
		<comments>http://sekolah.cahyaanakku.org/?p=1#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Sep 2007 09:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaanakku.org/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta - Diiringi irama gamelan yang sesekali menghentak, tangan-tangan kecil milik Stanza (11) tampak lincah memainkan wayang kulit. Cengkok yang keluar dari mulutnya pun tidak kalah hebat dengan orang dewasa.
Siapa nyana, bocah kelas VI SDN 03 Pagi Cilandak Timur yang baru menekuni dunia perwayangan 1 tahun 8 bulan itu penyandang autis.
Stanza memperlihatkan kebolehannya di Wijaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> - Diiringi irama gamelan yang sesekali menghentak, tangan-tangan kecil milik Stanza (11) tampak lincah memainkan wayang kulit. Cengkok yang keluar dari mulutnya pun tidak kalah hebat dengan orang dewasa.</p>
<p>Siapa nyana, bocah kelas VI SDN 03 Pagi Cilandak Timur yang baru menekuni dunia perwayangan 1 tahun 8 bulan itu penyandang autis.</p>
<p>Stanza memperlihatkan kebolehannya di Wijaya Festival yang digelar di Jalan Wijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2007).</p>
<p>Dia didampingi tiga dalang cilik lainnya. Lakon yang mereka mainkan bertema &#8220;Wahyu Makutoromo&#8221;. Meski autis, permainan wayang Stanza benar-benar memukau dan melebihi tiga temannya yang normal.</p>
<p>Anak kedua pasangan Yulia dan Yusrizal itu pertama kali jatuh cinta dengan wayang saat melihat tokoh wayang Gatotkaca di sebuah sinetron televisi.</p>
<p>Dia lalu menuturkan keinginannya menjadi Gatotkaca kepada ibunya, Yulia (40). &#8220;Tapi saya bilang, itu adanya cuma di dunia wayang,&#8221; ujar Yulia kepada <strong>detikcom</strong>.</p>
<p>Stanza tidak kecewa, dia malah semakin tertarik mengejar minatnya dengan tokoh itu. Dia lalu minta dibelikan wayang-wayangan.</p>
<p>&#8220;Dia akhirnya menyukai wayang. Saya melihat barangkali di bidang itulah minat dan potensi anak saya. Karena itu dia saya sekolahkan wayang di TMII,&#8221; tutur Yulia.</p>
<p>Dugaan Yulia terbukti, Stanza menunjukkan kemajuan yang sangat pesat hanya dalam tempo hari.</p>
<p>&#8220;Anak autis itu cepat menangkap, cerdas dan mudah memahami. Dalam 4 hari, 312 nama tokoh wayang berikut silsilahnya dia sudah hafal,&#8221; cerita Yulia.</p>
<p>Padahal, imbuh Yulia, di keluarga besarnya tidak ada yang keturunan dalang. Yulia sendiri berasal dari Magelang, sedangkan ayah Stanza, Yusrizal berasal dari Padang, Sumatera Barat.</p>
<p>&#8220;Saya sendiri nggak ngerti wayang. Bahkan saya tidak suka sama sekali dengan wayang,&#8221; ungkap Yusrizal yang mendampingi Yulia.</p>
<p>Setelah melihat kemampuan anaknya, Yulia dan Yusrizal kemudian memasukkan Stanza ke Sanggar Pedalangan Wayang Kulit Sumbang Budoyo di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.</p>
<p>Stanza dididik oleh Sumiran pimpinan sanggar itu. Yang mengejutkan selama 1 tahun 8 bulan belajar di sanggar itu, autis yang diderita Stanza berangsur-angsur berkurang.</p>
<p>&#8220;Jadi di sana itu Stanza juga diterapi dengan wayang. Dia sampai nginap di situ, padahal seumur-umur belum pernah nginap di luar,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai dalang cilik, jam terbang Stanza lumayan banyak. Dalam perdalangan, dia mendapat julukan Ki Kuncir. Julukan itu pertama kali diberikan oleh pakdenya.</p>
<p>&#8220;Waktu itu setelah diruwat, pakdenya ngomong Stanza akan pentas di depan orang besar, jadi diberi julukan Ki Kucir. Setelah itu ternyata Stanza pentas di depan Presiden SBY pada perayaan Hari Anak Nasional pada 2006 lalu,&#8221; bebernya.<br />
<strong>(umi/mar)</strong></p>
<p>[[EventsCalendarLarge]]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolah.cahyaanakku.org/?feed=rss2&amp;p=1</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
